selamat datang

assalamu alaikum

selamat datang buaT PARA PENCARI ILMU DI BLOG ANA INI !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Minggu, 31 Mei 2009

SEhAT MENuRUT ISLAM

“Sehat?”, Pernah seorang teman mengirimkan sebuah sms hanya dengan satu kata tersebut. Agak kaku membalasnya, aku jawab dengan sebuah kalimat pendek “Alhamdulillah”.

Kesehatan memang penting nilainya, sehat jasmani dan rohani, kedua faktor yang membuat kita disebut sebagai manusia, satu-satunya makhluk yang dikaruniai akal, sebagai media untuk berfikir, mencerna, menganalisa dan banyak hal lain tentunya.

Betapa pentingnya menjaga kesehatan, dengan memiliki badan yang sehat, tentu aktivitas bisa berjalan normal.

Islam sebagai agama yang syumul, juga berbicara tentang arti penting kesehatan bagi tubuh kita. Beberapa dalil dari Al Qur’an dan Assunnah menjelaskan akan pentingnya menjaga kesehatan tubuh, antara lain :

“…Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain…”. (QS. Al Baqarah : 184)

Ayat ini menunjukan adanya rukhsoh (dispensasi) bagi yang sakit ketika melaksanakan ibadah puasa ramadhan, demikian juga diperbolehkan berbuka puasa bagi musafir (orang yang sedang dalam perjalanan). Karena adanya mani’ (sesuatu yang mencegah) yakni sakit dan safar.

Tujuan diperbolehkannya berbuka puasa bagi kedunya tidak lain untuk menjaga kesehatan.

Ayat berikut juga memberikan toleransi bagi yang sakit ataupun musafir untuk menggunakan debu sebagai ganti dari air ketika bersuci.

“…dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu Telah menyentuh perempuan, Kemudian kamu tidak mendapat air, Maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu…”. (QS. Annisa: 43)

Sebuah hadits menjelaskan tentang seseorang yang sedang menderita suatu penyakit untuk berobat kepada dokter spesialis dan ternama, hal ini diriwayatkan oleh Al Imam Malik dari Zaid bin Aslam : suatu ketika seorang laki-laki pada masa Rasulullah SAW. Terluka sampai bengkak, orang tersebut memanggil dua orang temannya dari Suku Anmar, kemudian memperlihatkan luka yang dideritanya kepada kedua sahabatnya tersebut. Keduanya berkata : bahwa Rasulullah SAW. pernah bersabda kepada kami berdua : “apakah disekitar kalian ada seorang dokter”, kemudian keduanya berkata : “kebetulan ada seorang dokter yang hebat”.

Zaid bin Aslam memberi kesimpulan, secara tidak langsung Rasul mengatakan : “Telah diturunkan obat (penawar) saat diturunkannya suatu penyakit”

Jelaslah sudah, bahwa arti penting seorang dokter dalam suatu komunitas tertentu memberi pengaruh yang besar, karena dengan perantaraanya Allah memberikan kesembuhan pada setiap warga yang menderita suatu penyakit. Perhatian nabi terhadap kesehatan sungguh luar biasa, hal ini sebagai dalil akan pentingnya menjaga kesehatan tubuh kita.

Satu hal lagi kiranya perlu diungkapkan, hadits nabi tentang anjuran untuk bersiwak (membersihkan gigi dan bau mulut).

Sekiranya tidak memberatkan umatku, maka akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan wudlu”. (HR. Bukhori dan Muslim)

Bersiwak adalah membersihkan gigi dan menghilangkan bau mulut dengan kayu ‘aroq ataupun sejenisnya, saya lebih cenderung kalau siwak itu disamakan dengan sikat gigi, dalam hal kesamaan fungsi dan penggunaanya. Mulut sebagai organ pertama dalam tubuh ketika mengkonsumsi makanan, dan juga sebagai media komunikasi dengan sesama, akan lebih segar dan tampak pede jika terbebas dari kotoran dan bau yang tak sedap.

Jumat, 22 Mei 2009

larangan mencerca demam

Larangan Mencerca Demam Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Syaikh Salim bin 'Ied al-Hilali
Thursday, 12 March 2009

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah r.a, bahwasanya Rasulullah saw. mengunjungi Ummu as-Saa'ib atau Ummu al-Musayyab, lalu beliau bertanya, "Mengapa Anda gemetar wahai Ummu as-Saa'ib atau Ummu al-Musayyab?" Ia menjawab, "Aku terserang demam, semoga Allah tidak memberkati penyakit ini." Rasulullah saw. bersabda, "Janganlah kamu mencerca demam, sebab demam itu dapat mengahapus dosa anak Adam sebagaimana api menghilangkan kotoran besi," (HR Muslim [2575]).

Kandungan Bab:

  1. Larangan mencela demam, sebab demam dapat mengapus dosa anak Adam. Dalam hadits shahih dari Utsman r.a, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, "Demam merupakan penyelamat seorang mukmin dari api neraka pada hari kiamat."

    Dalam hadits shahih dari Abu Umamah, "Demam adalah hembusan neraka jahannam. Mukmin mana saja yang terkena demam maka akan menyelamatkan ia dari neraka."

    Ibnu Qayyim berkatra dalam kitab Zaadul Ma'ad (IV/30), "Disaat demam menyerang maka secara alami muncul protektor tubuh dari zat makanan beracun dan menyerap zat makanan yang bermanfaat. Itu semua berguna untuk membantu membersihkan tubuh dari berbagai ampas dan zat-zat yang kotor serta membuang zat racun dari dalam tubuh. Proses ini sama seperti proses pembakaran besi untuk membuang kotoran-kotorannya dan membersihkan elemen-elemennya. Penyakit demam persis seperti api pandai besi yang membersihkan elemen besi dan tentunya perkara ini adalah suatu hal yang sudah dimaklumi di kalangan medis."

    Adapun membersihkan hati dari berbagai kotoran dan sifat jelek, maka bidang ini diketahui oleh para dokter hati dan mereka telah menemukan seperti apa yang telah dinyatakan nabi mereka Rasulullah saw. Hanya saja apabila penyakit hati itu sudah kronis dan sulit disembuhkan maka cara terapi seperti ini tidak ada manfaatnya.

    Demam bermanfaat untuk tubuh dan hati. Dengan adanya manfaat seperti ini berarti mencelanya termasuk perbuatan dzalim. Ketika aku sedang sakit demam, pernah disebutkan kepadaku ucapakan sebagian penyair yang mencela demam:

    "Telah berkunjung si penghapus dosa, disambut dengan ucapan, "celaka bagi yang datang dan berkunjung." Penghapus dosa berkata, "Sekarang aku akan pergi dan apa yang kamu kehendaki?" Aku berkata, "Jangan engkau kembali"."

    Saya katakan, "Celakalah atasnya, sebab ia telah mencela sesuatu yang Rasulullah saw. melarang mencelanya. Seandainya ia mengatakan, "Telah berkunjung si penghapus dosa, selamat datang bagi yang berkunjung dan datang. Penghapus dosa berkata, "Sekarang aku akan pergi dan apa yang kamu kehendaki?" Aku katakan, "Janganlah pergi."

    Tentunya lebih baik baginya dan niscaya penyakit akan cepat pergi darinya. Dan ternyata penyakit demam itu segera pergi dariku."

  2. Dianjurkan meletakkan air dingin di wajah dan bagian ujung anggota badannya, sebagai terapi penderita demam sekaligus realisasi ajaran agama, sebagaimana yang tercantum dalam hadits Aisyah r.a. yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, "Demam adalah hembusan angin neraka, maka dinginkanlah dengan air."

Sumber: Diadaptasi dari Syaikh Salim bin 'Ied al-Hilali, Al-Manaahisy Syar'iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyyah, atau Ensiklopedi Larangan menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah, terj. Abu Ihsan al-Atsari (Pustaka Imam Syafi'i, 2006), hlm. 3/212-214.